Tampilkan postingan dengan label Bakteriologi 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bakteriologi 1. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2018

STERILISASI


Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptik, sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar. Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas, bahan kimia, dan penyaringan atau filtrasi 
Sterilisasi yang baik dapat mencegah tumbuhnya mikroba lain yang tidak diharapkan dalam bahan yang telah disterilisasi. Teknik sterilisasi yang digunakan berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung dari jenis material yang digunakan. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi juga harus dalam keadaan steril atau bebas dari kuman serta bakteri, virus dan jamur. Dan untuk mensterilkannya diperlukan pula pengetahuan tentang cara-cara dan teknik sterilisasi. Hal ini dilakukan karena alat- alat yang digunakan pada laboratorium mikrobiologi memiliki teknik sterilisasi yang berbeda 
Steril merupakan syarat mutlak keberhasilan kerja dalam laboratorium mikrobiologi. Dalam melakukan sterilisasi, diperlukan teknik-teknik agar sterilisasi dapat dilakukan secara sempurna, dalam arti tidak ada mikroorganisme lain yang  mengkontaminasi media. Ada beberapa teknik sterilisasi, yaitu dengan cara fisikdengan panas, mekanik dengan filtrasi dan kimia dengan senyawa-senyawa kimia. Pembersihan benda-benda atau permukaan tubuh akan mengurangi jumlah mikroba sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi. Misalnya cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air mengalir sebelum mengoperasikan 
Pada pengerjaan mikrobiologi, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik dimana alat penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Hal ini berarti mikroba kontaminan harus dimatikan. Sterilisasi dilakukan pada suhu 121oC selama 30 menit, yaitu agar spora atau mikroba dapat dimatikan. Spora adalah sel istirahat yang resisitan terhadap panas dan lingkungan yang berfungsi sebagai tunas untuk berkembang biak selanjutnya. Udara tekan yang digunakan juga harus dalam kondisi steril. Substrat yang berisi nutrien tidak peka terhadap suhu, maka sterilisasi media substrat dilakukan pada 138oC selama 5 menit. Pada substrat yang berisi nutrien tetapi peka terhadap suhu, maka sterilisasi media substrat dilakukan dengan penyaringan bertekanan melalui saringan milipore diameter 0,22 µm
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi ini termasuk kelembaban, konsentrasi gas, suhu dan distribusi gas dalam chamber pengesterilan. Penghancuran bakteri tergantung pada adanya kelembaban, gas dan suhu dalam bahan pengemas, penetrasi melalui bahan pengemas, pada pengemas pertama atau kedua, harus dilakukan, persyaratan desain khusus pada bahan pengemas
sterilisasi alat-alat laboratorium hanya digunakan dua metode sterilisasi yaitu :
a.    Sterilisasi basah
Sterilisasi basah adalah metode sterilisasi dengan uap air bertekanan. Alat yang digunakan ketika sterilisasi dengan metode ini menggunakan autoklaf manual dan autoklaf elektrik. Prinsip kerja dari alat ini cukup sederhana.
1.     Autoklaf diisi dengan air secukupnya dan semua alat-alat yang akan disterilkan seperti tabung reaksi, spoid, labu erlemeyer, ose, dimasukkan kedalamnya.
2.    Sebelum ditutup, semua alat perlu disusun dengan baik untuk menghindari alat-alat gelas pecah sewaktu proses sterilisasi berlangsung yang disebabkan oleh tekanan dari uap air.
3.    Proses berikutnya adalah menutup autoklaf dengan memutar setiap sekrup dari arah berlawanan dengan kuat hingga tidak terdapat lagi celah untuk keluarnya uap air yang dihasilkan saat pemanasan berlangsung.
4.    Langkah terakhir adalah memanaskan autoklaf tersebut dengan nyala api hingga menghasilkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121oC selama 15 menit. 
5.    Setelah selesai autoklaf didiamkan terlebih dahulu beberapa menit. Apabila autoklaf telah dingin, sekrup dan baut pengunci dapat dibuka dan semua alat-alat yang sudah steril dapat dikeluarkan satu persatu.
6.    Adapun untuk sterilisasi menggunakan autoklaf elektrik terlebih dahulu air dengan takaran yang telah ditentukan dimasukkan kedalamnya kemudian alat-alat yang akan disterilkan seperti labu Erlemeyer dan gelas ukur. Suhu, tekanan, dan waktu yang dibutuhkan diseting sesuai kebutuhan.
7.    Biasanya proses sterilisasi menggunakan autoklaf elektrik berlangsung sekitar 15 menit dengan suhu 121 0C.
8.    Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 121 oC.
b.    Sterilisasi kering
Sterilisasi kering merupakan sterilisasi dengan udara panas. Alat yang digunakan adalah oven. Cara ini umum dilakukan untuk mensterilkan peralatan gelas seperti cawan petri, tabung reaksi, dan alat-alat gelas lainnya. 
Prinsip kerja dari alat ini lebih sederhana yaitu pintu oven dibuka dan semua alat-alat yang akan disterilkan disusun rapi. Setelah itu pintu oven ditutup, suhu diseting pada angka 160-180oC selama 1-2 jam. Keuntungan dari pemanasan kering adalah tidak adanya uap air yang membasahi bahan atau alat yang disterilkan. 

Rabu, 28 Maret 2018

Acid-Fast Stain- Principle, Procedure, Interpretation and Examples

It is the differential staining techniques which was first developed by Ziehl and later on modified by Neelsen. So this method is also called Ziehl-Neelsen stainingtechniques. Neelsen in 1883 used Ziehl’s carbol-fuchsin and heat then decolorized with an acid alcohol, and counter stained with methylene blue. Thus Ziehl-Neelsen staining techniques was developed.

The main aim of this staining is to differentiate bacteria into acid fast group and non-acid fast groups.
This method is used for those microorganisms which are not staining by simple or Gram staining method, particularly the member of genus Mycobacterium, are resistant and can only be visualized by acid-fast staining.
Principle of Acid-Fast Stain
When the smear is stained with carbol fuchsin, it solubilizes the lipoidal material present in the Mycobacterial cell wall but by the application of heat, carbol fuchsin further penetrates through lipoidal wall and enters into cytoplasm. Then after all cell appears red. Then the smear is decolorized with decolorizing agent (3% HCL in 95% alcohol) but the acid fast cells are resistant due to the presence of large amount of lipoidal material in their cell wall which prevents the penetration of decolorizing solution. The non-acid fast organism lack the lipoidal material in their cell wall due to which they are easily decolorized, leaving the cells colorless. Then the smear is stained with counterstain, methylene blue. Only decolorized cells absorb the counter stain and take its color and appears blue while acid-fast cells retain the red color.
Summary of Acid-Fast Stain

Application of

Reagent

Cell colour

Acid fast

Non-acid fast

Primary dyeCarbol fuchsinRedRed
DecolorizerAcid alcoholRedColorless
Counter stainMethylene blueRedBlue
Procedure of Acid-Fast Stain
  1. Prepare bacterial smear on clean and grease free slide, using sterile technique.
  2. Allow smear to air dry and then heat fix.
    Alcohol-fixation: This is recommended when the smear has not been prepared from sodium hypochlorite (bleach) treated sputum and will not be stained immediately. M. tuberculosis is killed by bleach and during the staining process. Heat-fixation of untreated sputum will not kill M. tuberculosis whereas alcohol-fixation is bactericidal.
  3. Cover the smear with carbol fuchsin stain.
  4. Heat the stain until vapour just begins to rise (i.e. about 60 C). Do not overheat. Allow the heated stain to remain on the slide for 5 minutes.
    Heating the stain: Great care must be taken when heating the carbol fuchsin especially if staining is carried out over a tray or other container in which highly flammable chemicals have collected from previous staining. Only a small flame should be applied under the slides using an ignited swab previously dampened with a few drops of acid alcohol or 70% v/v ethanol or methanol. Do not use a large ethanol soaked swab because this is a fire risk.
  5. Wash off the stain with clean water.
    Note: When the tap water is not clean, wash the smear with filtered water or clean boiled rainwater.
  6. Cover the smear with 3% v/v acid alcohol for 5 minutes or until the smear is sufficiently decolorized, i.e. pale pink.
    Caution: Acid alcohol is flammable, therefore use it with care well away from an open flame.
  7. Wash well with clean water.
  8. Cover the smear with malachite green stain for 1–2 minutes, using the longer time when the smear is thin.
  9. Wash off the stain with clean water.
  10. Wipe the back of the slide clean, and place it in a draining rack for the smear to air-dry (do not blot dry).
  11. Examine the smear microscopically, using the 100 X oil immersion objective.
Interpretation of Acid-Fast Stain
Interpretation of Acid-Fast Stain

Acid fast: Bright red to intensive purple (B), Red, straight or slightly
curved rods, occurring singly or in small groups, may appear beaded

Non-acid fast: Blue color (A)

Examples of Acid-Fast Stain
Mycobacterium tuberculosis visualization using the Ziehl–Neelsen stain
Mycobacterium tuberculosis visualization using the Ziehl–Neelsen stain.
Source: Wikipedia

Acid-fast: Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium smegmatis.

Non-Mycobacterial bacteria: Nocardia

Coccidian Parasites: Cryptosporidium

Senin, 22 Januari 2018

PENYIAPAN PREPARAT MIKROORGANISME HIDUP

PENYIAPAN PREPARAT MIKROORGANISME HIDUP
UNTUK PENGAMATAN MIKROSKOPIS

Tujuan  : mengamati pergerakan mikroba dengan menggunakan preparat
 basah (wet preparation) dan preparat tetes gantung
Prinsip  : Bakteri akan bergerak karena disebabkan oleh adanya flagel dan kinetas air
Dasar Teori
Didunia ini banyak sekali mikroorganisme yang tidak memilkiki zat warna,sehingga apabila dilihat mikroba ini terlihat transparan sehingga perlu dilakukan penegcatan atau fiksasi.akan tetapi jika kita ingin memeriksa mikroba yang masih hidup dapat digunakan  teknik pembuatan preparat. “dua macam preparat yaitu preparat basah  dan preeparat kering.preparat basah dibagi menjadi wet preparation dan preparat tetes gantung”(maulina dan agus.2012.7)
Pada pemeriksaan mikroorganisme dengan preparat tetes gantung didapat sejumlah mikroorganisme yaitu  .dalam pembuatan preparat dengan teknik gantung kita harus tahu bagaimana cara pembuatanya. awalnya setetes cairan yang mengandung mikroba (air jerami) ditempatkan ditengah – tengah sebuah kaca penutup.kemudian bagian – bagian ditepi kaca penutup ini di olesi vaselin.kaca objek khusus yang tengahnya cekung dirapatkan pada kaca penutup yang berfaselin,kemudian segera dibalikkan.vaselin yang telah dioloskan pada tepi atau pinggir kaca penutup akan menyegel atau merapatkan kaca objek dan kaca penutup.
Alasan untuk membuat preparat tetes gantung ini adalah untuk mengamati motilitas suatu mikroorganisme. “motalitas adalah kemampuan dari suatu makhluk hidup untuk bergerak dengan kekuatan sendiri”. (jeneng taringan,1989.51). Karna gerakan mikroorganisme dapat bergerak bebas dalam preparat gantung maka motilitas dapat diamati. “gerak motilitas berbeda dari gerak brown,suatu motalitas makhluk hidup selalu menuruti arah tertentu”.
Alat dan bahan
A.      Alat :                                                                 
-          Mikroskpo                  
-          Deck glas
-          Kaca benda cukung
-          Kaca penutup
-          Pipet tetes
-          Vaselin
-          Jarum ose
-          Alkohol
B.      bahan
Biakan mikroba dalam air rendaman jerami
Cara kerja
1.      Wet preparation
a)         Meletakan setets air rendaman jerami yang pipet ditengah – tengah kaca benda
b)         Mengusap sedikit vaselin pada seluruh tepi  kaca penutup.
c)          Meletakan dengan hati hati kaca penutup tsb pada tetesan air dan tekan perlahan – lahan
d)         Mengamati dengan mikroskop mulai perbesaran lemah sampai perbesaran kuat,
2.      Preparat tetes gantung
a)         Mengusap sedikit vaselin pada seluruh tepi kaca penutup
b)         Melatakan setetes air rendaman jerami dengan pipet ditengah – tengah kaca penutup tsb
c)          Memegang kaca benda cekung dengan bagian cekunganya menghadap ke bawah.
d)         Mendekatkan kaca benda perlahan lahan pda kaca penutup
e)         Tekan perlahan – lahan sehingga vaselin menyebar dan memebentuk segel
f)          Membalikan dengan cepat kaca tersebut
g)         Mengamati dengan mikroskop mulai dari perbesaran lemah sampai kuat
3.       Tetesan tegak
1)      Disiapkan objek glass/ slide yang bersih dan bebas lemak
2)      Diberi 1 tetes NaCl steril ditengah-tengah object glass
3)      Disterilkan ose dengan memijarkan menggunakan lampu spritus, ditunggu sampai kira-kira dingin.
4)      Diambil sampel/ kultur bakteri dengan ose yang sudah dingin, 1 ose penuh (diameter 3 mm). Mengambil bakteri harus membelakangi lampu bunsen.
5)      Diletakkan ditengah-tengah objek glass tersebut .
6)      Dihomogenkan bersama dengan NaCl steril menggunakan ose
7)      Disterilkan lagi jarum ose, kemudian ditaruh ditempatnya.
8)      Dilihat sediaan dengan mikroskop menggunakan perbesaran 10 x (lensa okuler) dan 40 x (lensa objektif).

9)      Dimasukkan sediaan  kedalam cairan desinfektan jika telah selesai dilihat.

Jumat, 12 Januari 2018

Macam-macam Pewarnaan

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Jimmo, 2008).
Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah ”pewarna sederhana” dapat diartikan dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja (Gupte, 1990). Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies (Dwidjoseputro, 1994).
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel microbe atau bagian-bagian sel microbe disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan pengecatan struktural hanya mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam pengecatan ini adalah pengecatan endospora, flagella dan pengecatan kapsul.(waluyo,2010)
Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan cahaya sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan. Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora, flagela, dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat (Entjang, 2003)
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi (Rizki, 2008).
2.1 Macam-macam pewarnaan
2.1.1  Pewarnaan
Tujuan pewarnaan terhadap mikroorganisme ialah untuk :
1. Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi, maupun fungi.
2. Memperjelas ukuran dan bentuk jasad
3. Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan struktur dalam jasad.
4. Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik dan kimia dapat diketahui.
Langkah-langkah utama teknik pewarnaan
1. Pembuatan olesan bakteri, olesan bakteri tidak boleh terlalu tebal atau tipis
2. Fiksasi, dapat dilakukan secara pemanasan atau dengan aplikasi bahan kimia seperti sabun, formalin, fenol.
3. Aplikasi zat warna : tunggal, atau lebih dari 1 zat warna
Teknik pewarnaan dikelompokkan menjadi beberapa tipe, berdasarkan respon sel bakteri terhadap zat pewarna dan sistem pewarnaan yang digunakan untuk pemisahan kelompok bakteri digunakan pewarnaan Gram, dan pewarnaan “acid-fast”(tahan asam) untuk genus Mycobacterium.
Untuk melihat struktur digunakan pewarnaan flagela, pewarnaan kapsul, pewarnaan spora, dan pewarnaan nukleus. Pewarnaan Neisser atau Albert digunakan untuk melihat granula metakromatik (volutin bodies) pada Corynebacterium diphtheriae. Untuk semua prosedur pewarnaan mikrobiologi dibutuhkan pembuatan apusan lebih dahulu sebelum melaksanakan beberapa teknik pewarnaan yang spesifik (Pelezar,2008).
2.1.2 Macam-Macam Pewarnaan
Secara garis besar teknik pewarnaan bakteri dapat dikategorikan sebagai berikut :
1.   Pewarnaan sederhana
Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif).
Zat warna yang dipakai hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan pelarut. Pewarnaan Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk melihat morfologi bakteri secara umum. Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan adalah biru metilen (30-60 detik), ungu kristal (10 detik) dan fukhsin-karbol (5 detik).









gambar pewarnaan sederhana
2.   Pewarnaan differensial dibagi pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam
Pewarnaan differensial
Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna seperti pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. Penjelasan sebagai berikut:
Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-positif dan gram-negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae.
Dengan metode pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp Contoh bakteri yang tergolong bakteri tahan asam, yaitu dari genus Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu dari genus Nocardia. Bakteribakteri dari kedua genus ini diketahui memiliki sejumlah besar zat lipodial (berlemak) di dalam dinding selnya sehingga menyebabkan dinding sel tersebut relatif tidak permeabel terhadap zat-zat warna yang umum sehingga sel bakteri tersebut tidak terwarnai oleh metode pewarnaan biasa, seperti pewarnaan sederhana atau Gram.
Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :
  • Zat warna utama (violet kristal)
  • Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan warna utama.
  • Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.
  • Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol.
Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka.
Pengecatan gram dilakukan dalam 4 tahap yaitu
1. Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna ungu.
2. Pengintesifan cat utama dengan penambahan larutan mordan JKJ.
3. Pencucian (dekolarisasi) dengan larutan alkohol asam.
4. Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin
Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel  dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alcohol memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidohlikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negative lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3 nm).
Sifat bakteri terhadap pewarnaan Gram merupakan sifat penting untuk membantu determinasi suatu bakteri. Beberapa perbedaan sifat yang dapat dijumpai antara bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif yaitu:
Ciri-ciri bakteri gram negatif yaitu:
  • Struktur dinding selnya tipis, sekitar 10 – 15 mm, berlapis tiga atau multilayer.
  • Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%), peptidoglikan terdapat didalam
  • lapisan kaku, sebelah dalam dengan jumlah sedikit ± 10% dari berat kering, tidak mengandung asam tekoat.
  • Kurang rentan terhadap senyawa penisilin.
  • Pertumbuhannya tidak begitu dihambat oleh zat warna dasar misalnya kristal violet.
  • Komposisi nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.
  • Tidak resisten terhadap gangguan fisik.
  • Resistensi terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat
  • Peka terhadap streptomisin
  • Toksin yang dibentuk Endotoksin
Ciri-ciri bakteri gram positif yaitu:
  • Struktur dinding selnya tebal, sekitar 15-80 nm, berlapis tunggal atau monolayer.
  • Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal (1-4%), peptidoglikan ada yang sebagai lapisan tunggal. Komponen utama merupakan lebih dari 50% berat ringan. Mengandung asam tekoat.
  • Bersifat lebih rentan terhadap penisilin.
  • Pertumbuhan dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu kristal.
  • Komposisi nutrisi yang dibutuhkan lebih rumit.
  • Lebih resisten terhadap gangguan fisik.
  • Resistensi terhadap alkali (1% KOH) larut
  • Tidak peka terhadap streptomisin
  • Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
Contoh bakteri gram posittif                                    contoh bakteri gram negatif

















Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pewarnaan_Gram
Pewarnaan Tahan Asam
Pewarnaan ini ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan, maka akan menyerap zat warna dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA).
Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan bakteri penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis . Ada beberapa cara pewarnaan tahan asam, namun yang paling banyak adalah cara menurut Ziehl-Neelsen.(anonymous,2009)






Bakteri Tahan Asam (pink) dan bakteri Tidak Tahan Asam (biru)
Sumber: http://www.google.com
3. Pewarnaan khusus untuk melihat struktur tertentu : pewarnaan flagel, pewarnaan spora, pewarnaan kapsul.
Pewarnaan Spora
Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan biasa, diperlukan teknik pewarnaan khusus. Pewarnaan Klein adalah pewarnaan spora yang paling banyak digunakan.
Endospora sulit diwarnai dengan metode Gram. Untuk pewarnaan endspores, perlu dilakukan pemanasan supaya cat malachite hijau  bisa masuk ke dalam spora , seperti halnya pada pewarnaan  Basil Tahan Asam dimana cat  carbol   fuschsin  harus dipanaskan untuk bisa menembus  lapisan lilin asam mycolic  dari Mycobacterium .
Skema prosedur pengecatan Spora Schaeffer Fulton





Sumber http://images.suite101.com/400620_com_endosporestainprocpscanite.jpg
Protokol   pewarnaan diferensial endospores dan sel vegetatif adalah sebagai berikut:




Sumber:
Prinsip kerja:
Spora kuman mempunyai dinding yang tebal sehingga diperlukan pemanasan agar pori-pori membesar zat warna fuchsin dapat masuk, dengan pencucian pori-pori kembali mengecil menyebabkan zat warna fuchsin tidak dapat dilepas walaupun dilunturkan dengan asam alkohol, sedangkan pada badan bakteri warna fuchsin dilepaskan dan mengambil warna biru dari methylen blue.
Cara Kerja :
• Dibuat suspensi kuman, ditambah dengan carbol fuchsin sama banyak.
• Dipanaskan selama 6 menit pada api kecil atau pada penangas air 80oc selama 10 menit.
• Dibuat sediaan dan dikeringkan.
• Dimasukkan kedalam H2SO4 1% selama 2 detik
• Dimasukkan kedalam alkohol sehingga tidak ada lagi warna merah mengalir.
• Sediaan dicuci dengan air.
• Diwarnai dengan methylen blue selama 1 menit kemudian dicuci dan dikeringkan.
• Diperiksa dibawah mikroskop.
Pewarnaan flagel
Pewarnaan flagel dengan memberi suspense koloid garam asam tanat yang tidak stabil, sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan flagel.
Pewarnaan kapsul
Pewarnaan ini menggunakan larutan Kristal violet panas, lalu larutan tembaga sulfat sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul, karena jika pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul. Garam tembaga juga memberi warna pada latar belakang. Yang berwana biru gelap.
4. Pewarnaan khusus untuk melihat komponen lain dan bakteri :
  • pewarnaan Neisser (granula volutin),
  • pewarnaan yodium (granula glikogen).
5. Pewarnaan negatif
Tujuan
Mempelajari penggunaan prosedur pewarnaan negatif untuk mengamati morfologi organisme yang sukar diwarnai oleh pewarna sederhana. Bakteri tidak diwarnai, tapi mewarnai latar belakang. Ditujukan untuk bakteri yang sulit diwarnai, seperti spirochaeta
Cara pewarnaan negatif
– Sediaan hapus → teteskan emersi → lihat dimikroskop
Pewarnaan negatif, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan (tembus pandang). Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, maka terjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina.
Pewarnaan negatif memerlukan pewarna asam seperti eosin atau negrosin.pewarna asam memiliki negatif charge kromogen,tidak akan menembus atau berpenetrasi ke dalam sel karena negative charge pada permukaan bakteri. oleh karena itu, sel tidak berwarna mudah dilihat dengan latar belakang berwarna.
Kajian religi
  1. Al-Furqon: 2
2. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053].
[1053] Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.
2. An nahl: 12
12. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya),
  1. Al-Baqarah : 164
164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta
Pelezar,chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta
Waluyo,lud. 2010. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. UMM. Malang
Widjoseputro, D., 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Malang : Djambatan
Jimmo., 2008, http ://Pembuatan PReParAT dan PengeCaTAnnyA _ BLoG KiTa.mht,. diakses pada tanggal 14 April 2009, Makassar.
Fauziah., 2008, http://www.fkugm2008.com/wp-content/uploads/HSC/1- 2x/6/Praktikum6.pdf. diakses pada tangan 04 April 2009, Makassar.

Bakteri 1





·            Bakteriologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi bakteri, struktur anatomi sel bakteri, cara kerja sel bakteri, interaksi antarsel bakteri, dan juga tanggapan bakteri terhadap perubahan pada lingkungan hidupnya.
·            STRUKTUR BAKTERI :
1.     Dindingsel
Dinding sel tersusun atas mukopolisakarida dan peptidoglikan (murein) yaitu susunan yang terdiri dari polimer besar dan terbuat dari N – asetil glukosamin dan asam N – asetil muramat yang saling berikatan silang dengan ikatan kovalen.
2.     Kapsul
Merupakan selaput licin terdiri dari polisakarida terletak di luar dinding sel. Bakteri yang patogen memiliki kapsul berfungsi mempertahankan diri dari antitoksin yang dihasilkan sel inang.
3.      Membran sel
Tersusun atas lemak dan protein, bersifat semipermeable, berfungsi untuk mengatur keluar masuknya zat ke dalam sel.
4.     Sitoplasma
Merupakan tempat berlangsungnya reaksi metabolik.
5.     Nucleoid (DNA)
Untuk mengontrol sintesis protein dan pembawaan sifat.
6.     Flagella (CambukBesar)
Berfungsi utk bergerak, flagel melekat pada membran luar di dinding sel
7.     Ribosom
Tersusun atas protein dan RNA, sebagai tempat sintesis protein.
8.      Mesosom
Terbentuk dari membran sel yg tidak membentuk lipatan. Organel ini berfungsi sbg tempat pemisahan dua molekul DNA dan berperan juga dalam pembentukan dinding sel baru antara kedua sel anak tersebut.
BENTUK BAKTERI
·         Bentuk batang (basil)
Bakteri bentuk batang dikenal sebagai basil (berasal dari kata bacillus yang berarti batang). Bentuk ini dapat dibedakan menjadi  :
1.      Monobasil,yaitu bakteri yang hanya berbentuk satu batang tunggal. Contoh: Salmonella typhosa penyebab penyakit tipus, Escherichiacoli bakteri yang terdapat pada usus dan Lactobacillus.
2.      Diplobasil yaitu bakteri berbentuk basil yang bergandengan dua-dua
3.      Streptobasil yaitu bakteri berbentuk basil yang bergandengan memanjang berbetuk rantai, misal Bacillus anthracis penyebab penyakit antraks, Streptpbacillus moniliformis, Azotobacter, bakteri pengikat nitrogen
·         Bentuk bulat (kokus)
Bakteri bentuk bulat (bola) atau kokus dpt dibedakan menjadi
1.      Monokokus yaitu bakteri berbentuk bola tunggal, misal Monococcus gonorhoe penyebab penyakit kencing nanah.
2.      Diplokokus yaitu bakteri berbentuk bola bergandengan dua-dua, misal Diplococcus pneumoniae penyebab penyakit pneumonia (radang, paru-paru).
3.      Streptokokus yaitu bakteri berbentuk bola yang berkelompok memanjang berbentuk rantai, misal Streptococcus lactis, Streptococcus pyogenes penyebab sakit tenggorokan dan Streptococcus thermophilis untuk pembuatan yoghurt (susu asam).
4.     Stafilokokus yaitu bakteri berbentuk bola yang berkoloni seperti buah anggur, misal Stafilokokus aureus, penyebab penyakit radang paru-paru.
·         BENTUK SPIRILIA
1.      Spiral, yaitu golongan bakteri yang bentuknya seperti spiral, misalnya Spirillum.
2.      Vibrio atau bentuk koma yang dianggap sebagai bentuk spiral tak sempurna misalnya Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera.
3.      Spiroseta yaitu golongan bakteri berbentuk spiral yang dapat bergerak misal: Spirochaeta palida, penyebab penyakit sifilis
·         PERGERAKKAN BAKTERI
Bakteri dapat bergerak dengan menggunakan flagel.
Flagel merupakan bulu-bulu cambuk yang dimiliki oleh beberap jenis
bakteri dan letaknya berbeda-beda tergantung kepada spesiesnya.
Berdasarkan letak dan jumlah flagel yang dimiliki maka bakteri
dibedakan menjadi:
1.      Monotrik:
yaitu bakteri yang memiliki sebuah flagel pada satu ujungnya.
2.      Lopotrik :
yaitu bakteri yang pada satu ujungnya memiliki lebih dari satu flagel.
3.      Amfitrik :
yaitu bakteri yang pada kedua ujungnya hanya terdapat satu buah flagel.
4.      Peritrik :
yaitu bakteri yang memiliki flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
     PERKEMBANGAN BAKTERI
      Bakteri berkembang biak dengan cara rekombinasi genetik dan membelah diri. Rekombinasi genetik adalah pemindahan secara langsung bahan genetik (DNA) di antara dua   sel bakteri
      Pembelahan diri secara biner (langsung)
Pada pembelahan ini sel bakteri membelah menjadi dua sel anakan, dimana sifat sel anak yang dihasilkan sama dengan sifat sel induknya.
REKOMBINASI GENETIK
      Rekombinasi genetik adalah proses pertukaran elemen genetik yang dapat terjadi antara untaian DNA yang berlainan (interstrand), atau antara bagian-bagian gen yang terletak dalam satu untaian DNA (intrastrand).
Rekombinasi genetik pada Bakteri
      TRANSFORMASI
merupakan perpindahan materi genetik berupa DNA dari sel bakteri yang satu ke sel bakteri yang lain.
      TRANSDUKSI
adalah pemindahan materi genetik bakteri ke   bakteri lain dengan perantaraan virus.
       KONJUGASI
adalah bergabungnya dua bakteri (+ dan –) dengan membentuk jembatan untuk pemindahan materi genetik
Pembelahan diri secara biner (langsung)
Pada pembelahan ini, sel bakteri membelah menjadi dua sel anakan, dimana sifat sel anak yang dihasilkan sama dengan sifat sel induknya.
Faktor–faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk pertumbuhan optimum:
1. Suhu
2. Derajat keasaman atau pH
3. Konsentrasi garam
4. Sumber nutrisi
5. Zat-zat sisa metabolisme
6. Zat kimia
MEKANISME BAKTERI DALAM MENIMBULKAN PENYAKIT
A.      INVASI
Merupakan kemampuan dari bakteri untuk menyerang dan menyebar
B.      TOKSIGENITAS
Merupakan kemampuan dari bakteri dalam membentuk toksin :
      Eksotoksin
dihasilkan oleh bakteri yang masih hidup, dikeluarkan dari  tubuh bakteri ke sekelilingnya.
      Endotoksin
Merupakan bagian utama dinding sel bakteri Gram negatif
Toksin dihasilkan oleh bakteri2 yg telah mengalami    lisis/setelah bakteri tsb hancur
MACAM-MACAM BAKTERI
      Berdasarkan sumber oksigen yang diperlukan dalam proses respirasi, bakteri dikelompokan sebagai berikut:
1. Bakteri aerob
yaitu bakteri yang menggunakan oksigen bebas dalam proses respirasinya. Misal: Nitrosococcus, Nitrosomonas  dan Nitrobacter.
2.Bakteri anaerob
yaitu bakteri yang tidak menggunakan oksigen    bebas dalam proses respirasinya. Misal: Streptococcus lactis
      Berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen, bakteri dikelompokkan menjadi:
a)     Aerob obligat yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana  mengandung oksigen.Misal: Nitrobacter  dan Hydrogenomonas.
b)     Anaerob obligat yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam    suasana tanpa oksigen. Misal:  Clostridium tetani. Clostridium tetani
c)      Anaerob fakulatif yaitu bakteri yang dapat hidup dengan atau tanpa oksigen. Misal:  Escherichia coli, Salmonella thypose dan Shigella.
      Berdasarkan cara memperoleh makanannya, bakteri dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu :
1.      Bakteri heterotrof adalah Bakteri ini hidup dengan memperoleh makanan berupa zat organik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya.
2.      Bakteri autotrof adalah bakteri yang dapat menyusun zat makanan sendiri dari zat anorganik yang ada
Bakteri Heterotrof yg bersifat saprofit
ü  Bakteri yang mendapatkan zat organik dari sampah, kotoran, bangkai dan juga sisa makanan.
ü  Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi dan mineral.
ü  Di dalam lingkungan bekteri pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan.
ü  Sedangkan dalam usus manusia terdapat juga bakteri yang hidup secara saprofit (menguraikan serat-serat pada makanan) dan menguntungkan adalah bakteri Escherichia coli
      Dari sumber energi yang digunakannya, bakteri autotrof (auto = sendiri, trophein = makanan) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
a)     bakteri fotoautotrof  yaitu bakteri yang memanfaatkan cahaya sebagai energi untuk mengubah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis. Contoh : bakteri hijau, bakteri ungu.
b)      bakteri kemoautotrof  yaitu bakteri yang menggunakan energi kimia yang diperolehnya pada saat terjadi perombakan zat kimia dari molekul yang kompleks menjadi molekul yang sederhana dengan melepaskan hidrogen. Contoh : Nitrosomonas, Nitrosococcus, Nitrobacter , Rhizobium (terdapat pada bintil-bintil akar tanaman kacang-kacangan.
·         PEWARNAAN BAKTERI
Pewarnaan bakteri adalah proses yang bertujuan untuk memperjelas bakteri yang akan dilihat. ada dua macam zat warna (bahan cat) yang sering dipakai, yaitu sebagai berikut:
1.      Zat warna yang bersifat asam:
2.      komponen warnanya adalah anion, biasanya dalam bentuk garam natrium
3.      Zat warna yang bersifat alkalis:
4.      dengan komponen warna kation, biasanya dalam bentuk klorida
·         TUJUAN PEWARNAAN
1.      Mempermudah melihat bentuk  bakteri
2.      Memperjelas ukuran dan bentuk bakteri
3.      Melihat struktur luar dan dalam bakteri.
4.      Melihat reaksi bakteri terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik dan kimia dapat diketahui.
·         MACAN-MACAM PEWARNAAN
1.     PEWARNAAN SEDERHANA
Tujuan : 
Mempelajari kegunaan pewarnaan untuk mempertinggi kontras antara sel dan sekelilingnya dan mengamati ciri ciri bakteri.
Prinsip : 
Pada pewarnaan sederhana,bakteri diwarnai oleh reagen tunggal.pewarna dasar dengan kromogen muatan positif disarankan,selama asam nukleat bakteri dan komponen dinding sel membawa muatan negatif yang menyerap dengan kuat dan mengikat kation kromogenPerlu diperhatikan lamanya waktu pewarnaan tergantung pada jenis pewarna yang digunakan.Untuk karbol fuchsin membutuhkan 15-30 detik,Kristal violet 2-60 detik,dan Methilen Blue 1-2 menit
Bahan : 
Biakan pada agar nutrient miring umur 24 jam bakteri Escherichia coli,Bacillus  cereus,dan staphylococcus aureus.
Reagensia:
Methylen Blue,Kristal violet,dan Karbol Fuchsin.
2.     PEWARNAAN GRAM
Tujuan : 
Mempelajari prosedur pewarnaan Gram,memahami pentingnya setiap langkah dalam prosedur tsb,dan secara umum memahami reaksi reaksi kimiawi yang terlibat di dalam proses tersebut.
Prinsip : 
Bakteri dengan pewrna utama (Primary stain) yaitu dengan kristal violet atau Gentian violet akan berwarna ungu,melalui fiksasi warna dengan lugol akan menguatkan pelekatan warna utama,penambahan alcohol akan melunturkan atau memucatkan zat warna utama sehingga pada sel Gram negatif sel menjadi tidak berwarna tetapi pada sel Gram positif tidak mengalami pelunturan sehingga tetap berwarna ungu.pada pemberian pewarna tandingan (counterstain) yang berbeda dengan pewarna utama yaitu safranin menyebabkan bakteri gram negatif akan menyerap warna tsb menjadi merah.
Bahan :
  Kultur bakteri Escherichia coli,Staphylococcus aureus,dan Bacillus cereus(umur 24 jam) pada agar nutrien miring
Reagensia : 
  •Kristal violet
  •Lugol
  •Alkohol 95 %
  •Safranin
 Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni :
1.      gram-positif yaitu bakteri yang akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak.
2.      gram-negatif yaitu bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram.
Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alcohol memungkinkan hilang dari sel.
CIRI-CIRI BAKTERI GRAM NEGATIF
a.      Struktur dinding selnya tipis, sekitar 10 – 15 mm, berlapis tiga atau multilayer.
b.      Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%), peptidoglikan terdapat didalam
c.       lapisan kaku, sebelah dalam dengan jumlah sedikit ± 10% dari berat kering, tidak mengandung asam tekoat.
d.      Kurang rentan terhadap senyawa penisilin.
e.      Pertumbuhannya tidak begitu dihambat oleh zat warna dasar misalnya kristal violet.
f.        Komposisi nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.
g.      Tidak resisten terhadap gangguan fisik.
h.      Resistensi terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat
i.        Peka terhadap streptomisin
j.        Toksin yang dibentuk Endotoksin
CIRI-CIRI BAKTERI GRAM POSITIF
a)      Struktur dinding selnya tebal, sekitar 15-80 nm, berlapis tunggal atau monolayer.
b)      Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal (1-4%), peptidoglikan ada yang sebagai lapisan tunggal. Komponen utama merupakan lebih dari 50% berat ringan. Mengandung asam tekoat.
c)      Bersifat lebih rentan terhadap penisilin.
d)      Pertumbuhan dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu kristal.
e)      Komposisi nutrisi yang dibutuhkan lebih rumit.
f)       Lebih resisten terhadap gangguan fisik.
g)      Resistensi terhadap alkali (1% KOH) larut
h)      Tidak peka terhadap streptomisin
i)        Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
·         PEWARNAAN TAHAN ASAM
Tujuan :
Mempelajari dasar dasar kimiawi pada reaksi tahan asam dan kinerja prosedur pewarnaan tahan asam untuk membedakan bakteri tahan asam dan tidak tahan asam.
Prinsip : 
Pemanasan akan membantu penyerapan zat warna utama (karbol fuchsin) melalui pemberian larutan pemucat (asam alkohol) bakteri tahan asam tetap berwarna merah sedangkan pada bakteri tidak tahan asam zat warna utama akan luntur sehingga pada penambahan warna kedua (Methylen blue) bakteri akan menyerap zat warna tersebut (biru).
Bahan : 
Biakan berumur 24-48 jam
Mycobacterium Sp,S.aureus dalam TSB
Reagensia : 
Karbol fuchsin
Asam Alkohol
Methylen Blue
·         PEWARNAAN SPORA
Tujuan : 
Mengenal dasar dasar kimiawi pada pewarnaan spora dan kinerja dari prosedur untuk membedakan spora bakteri dan bentuk vegetatif.
Prinsip : 
Pemanasan akan mengembangkan lapisan luar spora sehingga zat warna utama dapat masuk masuk ke dalam spora sehingga berwarna hijau.melalui pendinginan warna utama akan terperangkap di dalam spora,dengan pencucian zat warna utama yang ada pada sel vegetatif akan terlepas sehingga pada saat pewarnaan kedua (safranin), sel vegetatif akan berwarna merah.
Bahan : 
Biakan berumur 48-72 jam
Bacillus cereus dalam agat nutrien miring
Clostridium butyricum dalam Tioglikolat
·         PEWARNAAN GRANULA
Tujuan : 
Mempelajari dasar dasar kimiawi dan kinerja prosedur pewarnaan granula.
Bahan : 
Corynebacterium diphtheriae dalam agar Loeffler.
Reagensia : 
a)      Toluidin blue
b)      Malachite Green
c)      Methylen blue
d)      Kristal violet
e)      Krisoidin
f)       Alkohol 95 %
·         Pewarnaan Kapsul
Tujuan : 
Balajar melakukan prosedur pewarnaan kapsul bakteri
Bahan : 
Klebsiella pneumoniae berumur 36 jam dalam media cair.
Reagensia : 
a)      Kristal violet
b)      CuSO4.5H2O 20 %
c)      Methylen Blue atau Safranin
Pewarnaan ini menggunakan larutan Kristal violet panas, lalu larutan tembaga sulfat sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul, karena jika pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul.
·         SEKEDAR MENGETAHUI
Pewarnaan khusus untuk melihat komponen lain dan bakteri, terdiri dari :
      a) pewarnaan Neisser (granula volutin),
      b) pewarnaan yodium (granula glikogen).
 Pewarnaan negatif
pewarnaan yang bertujuan untuk untuk mengamati morfologi organisme yang sukar diwarnai oleh pewarna sederhana.

germinasi Candida albicans

tugas pendahuluan mikologi d4 1. jelaskan dan gambarkan perbedaan ciri-ciri species Tricophyton sp, epidermophyton sp , mikrospor...